Laman

Sabtu, April 30, 2011

bukan untuk diperdebatkan

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Dr. Nazaruddin Umar mengatakan “ kami merasa ‘surprise’ ketika mengetahui pihak yang mengkritik Al Qur’an berasal dari teman-teman MMI, kalau JIL kami masih bisa memahami”.

Nazaruddin menambahkan, bahwa Al Qur’an terjemahan yang saat ini tersebar di masyarakat telah diterjemahkan oleh tim penerjemah yang beranggotakan sekitar sepuluh orang. Tim penerjemah terdiri dari ulama-ulama mumpuni dalam menerjemahkan Al Quran, yakni ulama-ulama yang berasal dari lembaga-lembaga yang dianggap kredibel menerjemahkan Al Quran, antara lain Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas Islam lainnya yang keilmuannya tentang bahasa Arab, Al Qur’an dan tafsirnya tidak diragukan lagi.

Sebagai pemirsa, tentunya berharap ada penjelasan yang menyejukkan dari ustad Irfan S Awwas dari MMI tentang terjemahan Al-quran. Sayang sekali, ternyata harapan itu tidak terwujud, yang ada bahkan ustad mensinyalir bahwa ada kesalahan dalam terjemahan Al-quran dari Departemen Agama dan khawatir terjemahan tersebut mengakibatkan  masyarakat awam bisa salah mengerti dan dapat memicu kekerasan.

Koreksi ustad yang disiarkan oleh media TV dan didengar oleh beragam masyarakat, mulai dari masyarakat yang tidak pernah baca Al-quran, tidak pernah baca terjemahan Al-quran, tidak kenal Al-quran,  yang suka membelokkan Al-quran, bahkan tidak sedikit masyarakat yang membenci Al-quran. Apakah ada pertimbangan ustad tersebut terhadap masyarakat yang sangat heterogen.

Mestinya harus ada pertimbangan yang tinggi bahkan mungkin harus istikharah untuk mengkoreksi terjemahan Al-quran melalui media TV. Perlu atau tidaknya dikoreksi terjemahan tersebut harus tetap mempertimbangkan harga diri sebagai pemilik Al-quran.

Bisa saja koreksi tersebut menimbulkan kemarahan oleh komunitas islam yang lain, sehingga menimbulkan perdebatan yang hanya mngkedepankan pemahamannya sendiri.

Janganlah ummat Islam itu bertengkar melalui media TV dipandu oleh presenter yang penampilannya tidak Islami dan tidak memahami Islam. Karena sepertinya presenter juga hanya mencari celah dari suatu kalimat narasumber yang dapat diperdebatkan sehingga dialog menjadi lebih panas.

Islam bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk diamalkan.



Selasa, April 26, 2011

siapa yang radikal

Detiknews.com - Senin, 25/04/2011 16:47 WIB.  Pengurus Pusat (PP) Gerakan Pemuda (GP) Ansor mewajibkan bagi kadernya mulai hari ini melakukan sweeping masjid Nahdlatul Ulama (NU) di seluruh Indonesia. Perintah sweeping ini terkait mulai banyaknya ajaran Islam radikal yang mengarah pada terorisme hingga paham Negara Islam Indonesia (NII). Nusron mengindikasikan banyak orang-orang berjenggot, berjidat hitam dan bercelana cingkrang tinggal di banyak masjid. Mereka bermukim di masjid-masjid yang tersebar di Tanah Air, mengajarkan ajaran Islam berdimensi radikalisme.

Dengan alasan apa mereka mengindikasikan bahwa  orang-orang yang berjenggot, berjidat hitam dan bercelana cingkrang adalah Islam radikal. Apakah mereka mengerti dengan arti radikal.

1.      Tentang Jenggot

Ibnu Umar telah meriwayatkan dari Nabi s.a.w. yang mengatakan :

        “Berbedalah kamu dengan orang-orang musryk, peliharalah jenggot dan cukurlah kumis”
         (Riwayat Bukhari).

Perintah Rasulullah ini mengandung pendidikan untuk umat Islam supaya mereka mempunyai kepribadian tersendiri serta berbeda dengan orang kafir lahir dan batin, yang tersembunyi maupun yang tampak.

2.       Tentang Jidat Hitam

Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka, maka Dia memerintahkan malaikat untuk mengeluarkan mereka yang menyembah Allah. Lalu malaikat mengeluarkan mereka. Mereka dikenali karena ada bekas sujud pada wajahnya. Dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan tanda bekas sujud sehingga mereka keluar dari neraka. Seluruh anak Adam bisa dimakan api neraka, kecuali bekas sujud. (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa orang yang shalatnya baik di dunia ini dan punya bekas sujud, nanti di akhirat kalau sudah terlanjur masuk neraka, akan dikeluarkan dari dalamnya. Dan cara untuk mengenalinya adalah dari cahaya bekas sujud yang memancar dari dahinya. Dan bahwa cahaya bekas sujud itu tidak akan hilang termakan oleh panasnya api neraka.
Adapun bekas sujud yang sifatnya seperti cahaya di akhirat nanti, kita dapati keterangannya dari hadits lainnya berikut ini.

Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada seorang pun dari umatku kecuali aku mengenalnya pada hari kiamat kelak." Para shahabat bertanya, "Ya Rasulallah, bagaimana anda mengenali mereka di tengah banyaknya makhluk?" Beliau menjawab, "Tidakkah kamu lihat, jika di antara sekumpulan kuda yang berwarna hitam terdapat seekor kuda yang berwarna putih di dahi dan kakinya? Bukankah kamu dapat mengenalinya?" "Ya", jawab shahabat. "Sesungguhnya pada hari itu umatku memancarkan cahaya putih dari wajahnya bekas sujud dan bekas air wudhu'. (HR Ahmad dan Tirmizy)

Hanya yang perlu dipahami adalah warna kehitaman di dahi itu tidak selalu menunjukkan bahwa orang itu banyak shalat. Dan bukan juga lambang dari ketaqwaan seseorang.


3.    Tentang celana cingkrang

"Kain yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka" (HR. Bukhari)

"Orang yang memanjangkan kainnya karena riya`, Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat".(Hr.Malik, AbuDaud, An-NasaidanIbnuMajah).

Siapa yang memanjangkan pakaiannya karena khaila`(karena sombong dan bangga diri), Allah tidak melihatnya pada hari kiamat. Abu Bakar As-Shiddiq ra berkata,'Ya Rasulullah, kainku ini longgar namun aku tetap menjaganya. Rasulullah SAW bersabda,'Kamu bukan termasuk orang yang sombong dan bangga diri. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang membicarakan hal itu. Namun berkaitan dengan bentuk hukum yang diistimbat, para ulama berbeda pandangan tentang keharamannya.
Sebagian ulama mengaitkan hubungan antra isbal dengan motifnya, yaitu sombong dan bangga diri.

Mengapa orang yang meyakini dan menjalankan sunnah Rasulullah saw yang menjadi panduan seluruh umat Islam harus di sweeping, apakah mereka akan mengatakan bahwa Rasulullah saw adalah radikal dalam versi mereka.

Islam tidak mengajarkan radikalisme dalam arti kekerasan, tetapi penting untuk radikal dalam memegang prinsip yang benar.

Dengan mensweeping orang-orang yang berjenggot, berjidat hitam dan bercelana cingkrang, mengindikasikan bahwa mereka bersikap radikal terhadap orang-orang yang menjalankan sunnah Rasulullah saw. 

Sabtu, April 16, 2011

introspeksi diri

Kenapa bi lambangnya burung Garuda ?
Ya iyalah .. masak ulat bulu ..

Serangan ulat bulu sudah sangat meluas di Jawa Tengah, bahkan  sudah ditemukan juga serangan ulat bulu di Payakumbuh Sumbar. Banyak analisa mengatakan bahwa :

·        Berkurangnya  populasi hewan yang menjadi pemangsa alami ulat bulu saat ini, seperti burung pemakan serangga dan semut pohon turut memengaruhi merebaknya populasi ulat bulu karena rusaknya rangkaian rantai makanan
·        Penyebab merebaknya populasi ulat bulu bisa juga karena perubahan iklim, iklim yang tak menentu, yang mempengaruhi perilaku sejumlah spesies hewan.
·        Erupsi merapi ikut mempengaruhi terjadinya gejala ulat bulu

Kita harus berkaca pada Firman Allah SWT dalam surat Al-A’raaf : 130 – 135 yang artinya sebagai berikut :

130.     Dan sesungguhnya Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.
131.    Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah karena (usaha) kami." Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
132.    Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu."
133.    Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah[558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa
134.    Dan ketika mereka ditimpa azab (yang telah diterangkan itu) merekapun berkata: "Hai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhamnu dengan (perantaraan) kenabian yang diketahui Allah ada pada sisimu[559]. Sesungguhnya jika kamu dapat menghilangkan azab itu dan pada kami, pasti kami akan beriman kepadamu dan akan kami biarkan Bani Israil pergi bersamamu."
135.    Maka setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka hingga batas waktu yang mereka sampai kepadanya, tiba-tiba mereka mengingkarinya.

Sensitivitas ummat Islam terhadap musibah sudah sangat tipis bahkan mati rasa. Semua musibah selalu dilemparkan kepada gejala atau fenomena alam. Para ilmuan mendukung teori ini dengan bahasa ilmiah dan sulit dimengerti membenarkan bahwa gejala alam adalah faktor utama terjadinya segala musibah. Dengan alasan ini mereka ingin menghindarkan diri dari tuduhan kedurhakaan kepada Allah SWT. Dan para musuh Islam tidak ingin  ummat Islam itu mengintrospeksi diri dan menyadari kelalaian ataupun kedurhakaannya kepada Allah sehingga kembali ke jalan Islam yang benar

Mestinya apapun yang terjadi pada diri kita dan negri ini harus menjadi bahan introspeksi dan evaluasi apakah kita sedang mendapat azab ataukah ujian. Kita harus dapat mengukur diri sendiri sejauh mana kita bisa dikatakan mendapatkan ujian.

Tidak mungkin kita mengatakan bahwa diri kita diuji apabila kita mendapatkan musibah sementara kita sering berbuat dosa dan melupakan Allah SWT

Ya Allah, janganlah Engkau cabut rasa takut kepada Engkau dalam diri kami

Jumat, April 15, 2011

siapa salah

Pengalihan isu
Islam selalu menjadi pengalihan isu ..
Sering terjadi pengalihan isu tersebiut bersifat tuduhan
Mendiskreditkan Islam

Bom buku
Bom cirebon
NII
Penculikan Lian
Teroris

Semua dituduhkan kepada Islam
Memojokkan Islam lebih penting daripada memberantas korupsi
Memojokkan ulama lebih penting daripada membicarakan orang miskin

Islam tidak dihargai oleh negri yang penduduknya banyak ummat islam
Islam menjadi kecil di negri yang penduduk Islamnya paling besar ..

Sedihnya ..

Yang banyak mengamati dan mengomentari tentang isu tersebut 
adalah para cendikiawan yang beragama Islam

Mereka orang pintar,
Pengamat politik islam
Pengamat teroris
Pengamat lain-lain

Dengan gagahnya mengomentari bahwa jemaah itu selalu begini, begitu, punya jaringan ini dan itu
Dengan senang hatinya mereka bertanya dengan narasumber dengan pertanyaan yang tendensius
Yang bertanya dan yang ditanya adalah masyarakat Islam

Dimana kecintaannya terhadap Islam

Siapa yang salah ..
Yang salah adalah masyarakat Islam itu sendiri ..

Cinta dunia dan takut mati ...

Sabtu, Maret 19, 2011

belajar dari negeri sakura

Mereka lebih memilih menyakiti diri mereka sendiri untuk tidak menyakiti orang lain ..
Mereka tidak meratapi masalah mereka tetapi mereka berjuang untuk keluar dari masalah mereka ..
Mereka punya daya malu yang sangat besar sehingga mereka mampu berdiri tegak ..

Kalimat diatas adalah pendapat masyarakat Indonesia yang tinggal di Jepang, pertanyaan timbul setelah melihat tidak adanya kepanikan masyarakat Jepang pasca Tsunami yang menghancurkan beberapa kota di Jepang ..

Saat ada kesempatan berkunjung ke Jepang, memang terasa betapa masyarakat Jepang itu penuh dengan kedisiplinan, menghargai dan menghormati sesama mereka, seorang Presiden Directur dari suatu perusahaan International tidak merasa sungkan dan ragu memberikan penghormatan dan ucapan terimakasih kepada seorang sopir yang telah mengantarnya. Seorang sopir akan sangat setia untuk tidak melanggar lampu lalu lintas dipersimpangan walaupun lalu lintas sangat sepi

Berbeda sekali dengan masyarakat Indonesia yang kebanyakan dari mereka adalah masyarakat muslim
Dari Anas dari Nabi SAW., beliau bersabda: “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri”. (HR.Bukhari:12)

عَنْ أَنَسٍعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ


Mestinya budaya tersebut adalah budaya masyarakat Islam yang beriman kepada Allah dan yang mencintai Rasulullah saw.
Mestinya kita menjadi contoh yang baik untuk masyarakat lain diseluruh dunia dalam semua sisi kehidupan
Mestinya kita menjadi pelopor dalam hal menghargai dan menghormati orang lain
Mestinya kita menjadi masyarakat yang dihormati dan dicontoh masyarakat lain

Kita telah dijanjikan kemuliaan dan ganjaran yang sangat besar oleh Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang apabila kita mengasihi dan menyayangi sesama muslim. Ini adalah salah satu motivasi yang dapat menjadikan kita memiliki budaya yang baik.

Mengapa masyarakat Jepang yang kebanyakan mereka tidak mengenal Allah dan Rasulullah saw mampu melakukan itu semua .. apa motivasinya, apa ganjaran yangh mereka harapkan terhadap budaya mereka ..

Jumat, Maret 18, 2011

wajib dibunuh

Judul bukunya adalah “orang-orang yang wajib dibunuh” ini kalau tidak salah, karena hanya mendengar dari berita di hampir semua media TV di Indonesia dan belum pernah melihat apalagi membaca buku tersebut, ada nggak di toko buku?

Buku tersebut diisi dengan bom dan dikirimkan pada orang-orang yang masuk dalam daftar orang-orang yang wajib dibunuh dalam versi yang ingin membunuh, maka dalam beberapa hari ini sibuklah media berita yang memberitakan tentang paket bom buku ...katanya ini adalah suatu metode baru para terorisme dalam gerakannya .. tetapi ini bukan suatu hal yang baru, tetapi ini yang sudah lama menurut adiknya Muklas dalam siaran langsung dengan Hendropriyono dan siapa tuh .. lupa .. namanya .. menjengkelkan orangnya ...

Kembali bermunculan para pengamat teroris yang sepertinya sangat tahu dengan gerakan orang-orang yang diduga teroris bahkan seperti hafal sekali dengan pola gerakan yang dilakukan oleh kelompok yang diduga teroris. Pengamat itu mengaku sebagai mantan anggota jamaah Islamiyah, mantan poso dan ambon dan mantan Afganistan


Mantan mujahid..

Kalau mengaku sebagai mantan mujahid sebagaimana yang mereka yakini sebelumnya dan mengaku bahwa sekarang telah sadar, berati mereka bukan mujahid lagi ...dan apa yang telah mereka lakukan sebelumnya adalah kesesatan atau menjalanankan pemahaman yang salah ...

Tidak sedikit ummat Islam yang menilai bahwa orang-orang yang menjadi sasaran dari paket bom buku tersebut adalah mereka yang sering sekali membangkitkan kemarahan  ummat Islam, melecehkan seolah menantang dan bahkan salah satu dari mereka pernah di fatwakan halal darahnya oleh suatu kelompok Islam

Seharusnya orang-orang yang menjadi target bom buku tersebut dapat mengambil hikmah dan bersyukur kepada Allah Yang Maha Perkasa karena telah diselamatkan kemudian mengkoreksi diri dan segera bertaubat kalau memang penilaian ummat Islam terhadap mereka  benar ..

Mengapa menjadi target yang harus dibunuh ..

Selasa, Maret 01, 2011

Heboh Dua Makam Masyarakat Jahil yang Dilestarikan

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*
Masyarakat korban pembodohan dan penyesatan. Mereka suka mengerumuni kuburan dan semacamnya yang dipercayai secara batil. Kecenderungan yang jahil (batil keyakinannya) itu selama ini seakan dilestarikan, bahkan belakangan dikembang suburkan sebagai lahan aneka kepentingan.
***
Pekan ketiga Februari 2011 antara lain dihiasai dengan berita heboh tentang dua makam (kuburan) yang mengundang perhatian sejumlah orang. Kejadian pertama berasal dari Jombang, tentang makam Gus Dur yang amblas (15 Februari 2011). Kedua, dari Jakarta, tentang adanya desas-desus yang tak jelas sumbernya bahwa ada suara tangisan dari makam Desi, seorang gadis berusia 15 tahun yang menderita sakit, kemudian meninggal dunia pada 18 Februari 2011.
Makam Desi
Seorang gadis remaja bernama Desi kelahiran 14 Desember 1995, meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya dimakamkan di TPU Prumpung, Jakarta Timur, pada tanggal 18 Februari 2011. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja beredar kabar bahwa dari makam gadis belia itu keluar suara tangisan.
Kabar itu membuat sejumlah orang penasaran, dan berbondong-bondong mendatangi makam Desi. Menurut taksiran media massa, pada tanggal 18 Februari 2011 sekitar ratusan massa terkonsentrasi di sekitar makam Desi yang berhiaskan nisan berwarna hitam dan taburan bunga yang mulai mengering.
Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, aparat pemerintah setempat sudah melakukan antisipasi, antara lain mengutus Wakil Lurah Cibesut, Bambang N, untuk meyakinkan massa bahwa suara tangisan dimaksud tidak ada. Di tengah kerumunan massa, Bambang meminta massa untuk diam dan menyimak ada-tidaknya suara tangisan pada makam Desi. Ternyata tidak ada. Maka, Bambang pun meminta massa yang berkerumun di sekitar makam Desi untuk meninggalkan tempat.
Namun, massa yang penasaran tetap berkerumun di sekitar makam Desi pada hari-hari berikutnya. Ketua RT setempat, Nurohman, sudah pula turun tangan meyakinkan massa bahwa suara tangisan itu tidak ada. Meski sudah berapi-api, massa yang penasaran tak juga surut. Massa terkesan cuek (tidak peduli, bersikap masa bodoh) terhadap ‘pidato’ sang Ketua RT.
Bahkan ketika salah seorang ustadz, Junaedi, berusaha meyakinkan massa dengan ceramah keagamaannya, massa bergeming alias cuek bebek tidak menggubrisnya, meski pada saat ceramah disampaikan massa masih mau mendengarkan dengan sikap terdiam. Usai ceramah, mereka kembali kepada pendirian semula. Sampai 23 Februari 2011, masih ada sekitar 200-an orang yang terkonsentrasi di makam tersebut. Akibatnya, banyak sampah bertebaran dan sejumlah makam rusak terinjak-injak. Sejumlah pedagang pun ikut masuk areal makam untuk menjajakan makanan dan minuman.
Desi bukan siapa-siapa. Tapi, ketika kabar burung (kabar yang tidak jelas sumbernya dan tak dapat dipegangi) menyampaikan pesan bahwa dari makam gadis remaja itu keluar tangisan, lalu ratusan orang pun penasaran. Tidak sekedar penasaran, mereka berbondong-bondong mendatangi makam gadis remaja itu, seraya mengabaikan pesan pak ustadz, Ketua RT, Wakil Lurah dan aparat kepolisian. Artinya, massa lebih percaya kepada rumor berbau mistis-klenik ketimbang pesan tokoh formal dan informal tadi. Ini jelas suatu kemunduran, sekaligus merupakan krisis kepercayaan terhadap para tokoh masyarakat tadi.
Kalau makam Desi yang bukan siapa-siapa saja bisa menyedot perhatian khalayak, apalagi bila ada kejadian pada makam seseorang yang selama ini secara sengaja-ngaja diposisikan oleh media yang berbau anti Islam bahwa dia itu sebagai wali, guru bangsa, dan tokoh besar yang faktanya memang pernah menjadi presiden Indonesia. Pasti lebih heboh lagi tentunya.
Makam Gus Dur Amblas
Kenyataannya memang demikian. Apalagi, peristiwa amblasnya makam Gus Dur yang terletak di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur ini, terjadi bertepatan dengan liburan Maulid 15 Februari 2011/ 12 Rabi’ul Awwal 1432H. Beberapa jam pasca amblasnya makam Gus Dur itu, dua putri Gus Dur, Inayah dan Alissa telah mendatangi dan melihat kondisi makam tersebut. Namun saat itu, makam amblas Gus Dur sudah ditutup pasir oleh petugas penjaga makam.
Saat itu, pada liburan Maulid, orang-orang yang berziarah ke makam Gus Dur jauh lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Maklumlah hari libur, Maulid pula. Bukan hanya peziarah yang tumpah ruah, tetapi juga curah hujan yang turun membasahi bumi seperti tumpah dari langit. Sekitar pukul 15:00, Waldi yang biasa berjualan VCD tentang Gus Dur di sekitar makam, tiba-tiba melihat permukaan tanah pada makam Gus Dur amblas. Mulanya seukuran telapak tangan dengan kedalaman sekitar 20 sentimeter.
Kejadian itu segera ia laporkan kepada Zainul yang sedang berjaga di pos dekat pintu keluar masuk bagi peziarah. Serta-merta Zainul bergegas menuju areal makam dan langsung menutupi lubang pada makam Gus Dur dengan pasir. Selanjutnya, penjaga dan pengurus ponpes membuat barisan barikade agar peziarah tidak sampai mengabadikan peristiwa amblasnya permukaan makam Gus Dur. Alasannya, jasad Gus Dur yang sudah setahun lebih dimakamkan di tempat itu terlihat masih tetap utuh.
Menurut M. Hasan, orangtua Zainul, yang juga ikut menutupi lubang di makam Gus Dur itu bersama anaknya, di bawah guyuran hujan ia melihat sesuatu yang ganjil, namun tak berani menceritakan apa yang dilihatnya. Alasannya, itu bukan merupakan kewenangannya. Sesuatu yang ganjil?
Yang jelas, sehari pasca amblasnya makam Gus Dur, di sekeliling areal makam dibangun tembok setinggi 30 sentimeter untuk mengantisipasi derasnya terjangan air hujan. Juga, disediakan pasir. Maksudnya, jika sewaktu-waktu hujan deras, dan permukaan makam Gus Dur amblas lagi, maka pasir-pasir itu bisa langsung digunakan untuk menutupi lubang dengan segera.
Selain itu, keluarga besar mendiang Gus Dur menggelar rapat internal, membahas fenomena langka amblasnya permukaan tanah makam Gus Dur, kain kafan yang masih terlihat bersih, dan jasad Gus Dur yang meski telah satu tahun lebih ditanam konon tetap utuh. Bagi para Gusdurian, kabar seperti itu membuat mereka kian yakin bahwa Gus Dur itu bermaqom wali. Istilah Gus Durian antara lain digunakan beritajatim.com untuk menyebut konstituen pengagum Gus Dur.
Sebenarnya peristiwa amblasnya makam Gus Dur bukan kali ini saja terjadi. Beberapa hari sejak Gus Dur dimakamkan, sekitar awal Januari 2010, makam Gus Dur pernah amblas akibat banyaknya peziarah yang berkerumun. Menurut pemberitaan Liputan6.com edisi 04 Januari 2010: “Sejak KH Abdurrahman Wahid dikebumikan, makam cucu pendiri Nahdlatul Ulama itu tak henti-hentinya didatangi peziarah. Apalagi peziarah bisa dengan leluasa memasuki areal dan mendekati makam. Akibatnya, tanah makam Gus Dur amblas dan sejumlah batu nisan di kompleks makam rusak.”
Sejak saat itu (04 Januari 2010), pengelola ponpes Tebuireng memberi pembatas dengan tali tambang, sehinga peziarah tak bisa leluasa seperti sebelumnya, selain untuk menghindari kerusakan yang lebih parah lagi.